Pendidikan tidak melulu harus terjadi di dalam empat dinding kelas. Filosofi inilah yang diterjemahkan secara apik oleh SMP Negeri 1 Gucialit. Dalam upaya memperkokoh karakter siswa melalui kearifan lokal, sekolah ini menggelar kegiatan kokurikuler yang terintegrasi langsung dengan prosesi adat "Sedekah Desa" di Desa Gucialit.
Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Selasa (22/12/2026) ini melibatkan partisipasi penuh dari seluruh warga sekolah, mulai dari siswa-siswi, dewan guru, hingga berbaur dengan tokoh masyarakat setempat. Sinergi ini menciptakan suasana pembelajaran yang hidup dan organik.
Kepala SMPN 1 Gucialit, Luluk Winarni menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengubah paradigma belajar siswa. Menurutnya, pemahaman terhadap budaya tidak cukup hanya lewat teori di buku teks, melainkan harus melalui sentuhan pengalaman (experiential learning).
"Keterlibatan siswa dalam Sedekah Desa ini adalah bentuk nyata pembelajaran kontekstual. Tujuan utama kami adalah memberikan pengalaman pembelajaran mendalam (Deep Learning) kepada siswa. Dengan terjun langsung, mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi merasakan sendiri getaran nilai-nilai saat prosesi pelestarian budaya lokal dilakukan," ujar Luluk Winarni di sela-sela kegiatan.
Kegiatan ini juga menjadi bukti konkret penerapan kurikulum yang adaptif terhadap lingkungan. Koordinator Kokurikuler, Abdul Gofur menjelaskan bahwa integrasi siswa dalam acara adat desa bukanlah kegiatan selingan semata.
"Ini merupakan wujud nyata implementasi kurikulum yang berlaku saat ini. Program kokurikuler sengaja kami rancang untuk memperkuat kompetensi siswa agar selaras dengan profil pelajar yang berbudaya, mencintai akarnya, namun tetap berpikir global," jelas Abdul Gofur.
Aspek pembentukan mental juga menjadi sorotan utama. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan, Yepta Putra Ferdinayah menekankan pentingnya dampak jangka panjang (long-term outcome) dari kegiatan budaya ini bagi psikologis dan karakter sosial siswa.
"Harapan kami, SMPN 1 Gucialit mampu mencetak lulusan yang mandiri dan bertanggung jawab. Pendidikan ini adalah bekal, agar ketika mereka kembali ke lingkungan masyarakat kelak, mereka mampu menjadi pribadi yang berbudaya dan membawa manfaat nyata bagi daerah asalnya," tegas Yepta.
Sepanjang rangkaian acara, antusiasme terlihat jelas di wajah para siswa. Mereka tidak hanya menonton, tetapi aktif mengikuti tahapan demi tahapan, menyerap nilai gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan, dan filosofi kebersamaan yang menjadi nyawa dari tradisi Sedekah Desa Gucialit.
Langkah SMPN 1 Gucialit ini menjadi contoh inspiratif bagaimana institusi pendidikan dapat berperan aktif dalam melestarikan tradisi, sekaligus menjadikannya media efektif untuk menanamkan budi pekerti luhur kepada generasi penerus bangsa.